Senin, 06 Agustus 2012

KISAH GOA DALEM PALIMANAN






Pada masa Sunan Gunung Jati memimpin Kerajaan Cirebon, ada satu peristiwa yang sempat menggemparkan seluruh kerajaan. Banyak anak bayi yang baru berumur 15 hari hilang tanpa bekas. Peristiwa tersebut sangat meresahkan seluruh penduduk Cirebon.
Hebatnya bayi-bayi tersebut tidak ketahuan siapa yang mencurinya. Hal ini mengakibatkan penduduk melakukan penjagaan ketat di seluruh wilayah kerajaan terutama penduduk yang baru mempunyai bayi berumur 2 minggu tersebut. Tetapi tetap saja penculikan bayi terus terjadi dan makin membuat takut penduduk. Siapakah gerangan yang telah menculik bayi-bayi tersebut ?
Seluruh pejabat kerajaan Cirebon langsung mengadakan rapat untuk membicarakan dan mencari tahu apa dan siapa yang menyebabkan penculikan ini. Akhirnya Pangeran Patang Aji (anaknya Sunan Gunung Jati ) diberi tugas untuk menyelesaikan masalah ini dengan tuntas.
Segala cara telah dilakukan tetapi tetap saja penculikan masih terus terjadi. Hebat sekali orang yang menculik bayi-bayi tersebut pikir Pangeran Patang Aji karena dijaga ekstra ketatpun masih bisa lolos. Akhirnya Pangeran Patang Aji melakukan meditasi untuk mengetahui siapakah yang telah menculik bayi-bayi tersebut. Betapa kagetnya Pangeran Patang Aji setelah mengetahui sosok tersebut dari hasil meditasinya.
Ternyata yang menculik bayi-bayi tersebut adalah Siluman Wanita yang memang sengaja menculik dan memakannya sampai habis tubuh bayi-bayi tersebut. Tujuannya adalah Siluman Wanita dapat berubah menjadi wanita muda yang cantik dan sekaligus mendapatkan kekuatan agar bisa bertahan hidup di alam dunia.
Siluman wanita tersebut bernama Endang Banowati. Siluman wanita berwajah menyeramkan seperti Mak Lampir dengan rambut panjang yang tidak dirawat alias awut-awutan dan suka tertawa melengking yang dapat membuat bulu roma orang yang mendengarnya naik ke atas alias merinding disko. Memang Endang Banowati mempunyai kemampuan untuk menyirep orang sehingga tertidur pulas.
Pada suatu malam, Pangeran Patang Aji membuat sebuah perangkap di sebuah rumah penduduk yang isterinya baru mempunyai bayi berumur 15 hari. Dengan ilmu penangkal sirep dan cambuk saktinya maka dipancinglah Endang Banowati untuk datang ke rumah tersebut. Tepat jam 12 malam, terdengarlah suara tertawa melengking yang bisa membuat orang tertidur tapi dengan persiapan yang matang orang-orang yang berada di rumah tersebut tidak mempan.
Baru saja Endang Banowati mau masuk ke rumah dan ingin mengambil bayi yang berada di samping ibunya, langsung terhempas keluar. Rupanya bayi dan ibunya telah diisi ilmu penangkal lewat bacaan-bacaan Asma Allah SWT.
Saat terhempas itulah, Pangeran Patang Aji berusaha menahan Endang Banowati. Tetapi dengan licinnya Endang Banowati dapat melepaskan perangkap yang telah disiapkan sebelumnya. Dengan satu gerakan, Endang Banowati melesat meninggalkan rumah penduduk. Pangeran Patang Aji juga tidak menyerah dan mengejar Endang Banowati. Akhirnya Pangeran Patang Aji tiba di sebuah gua di daerah Palimanandan kebetulan hari menjelang subuh.
Pangeran Patang Aji dan beberapa anak buahnya menunggu di luar gua sambil memasang jaringan goib di muka gua dengan harapan Endang Banowati tidak bisa lagi keluar kemana-mana lagi atau diisolir di dalam gua. Pangeran Patang Aji sangat mengerti kalau Endang Banowati tidak akan mampu bertahan lama di dalam gua selama belum mendapatkan mangsanya.
Sampai menjelang maghrib lagi, terdengar suara teriakan yang keras dan melengking dengan emosinya. Beberapa kali Endang Banowati mau keluar terhalang jaringan goibnya Pangeran Patang Aji. Sementara kalau terus di dalam gua, Endang Banowati merasakan panas yang teramat sangat. Akhirnya Endang Banowati menyerah juga dan hanya bertahan di dalam gua selama 3 hari.
Endang Banowati memohon ampun kepada Pangeran Patang Aji karena sudah tidak kuat lagi menahan panas dan sakitnya yang menjadi-jadi akibat ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Pangeran Patang Aji. Kemudian Pangeran Patang Aji memasuki gua untuk melihat situasi dan kondisi di dalam.
Tampak Endang Banowati bersembunyi di sebuah sudut ruangan gelap dalam gua agar tidak terkena sinar matahari. Dengan wajah yang merah dan sekujur tubuhnya melepuh, Endang Banowati bersujud memberikan penghormatan kepada Pangeran dan sekali lagi memohon ampun.
Betapa terkejutnya Pangeran Patang Aji ketika melihat beberapa potongan tubuh manusia kecil yang namapaknya tubuh bayi yang masih orok dan meninggalkan warna merah di potongan tubuh tersebut. Sisa tulang belulang yang berserakan di salah satu ruangan gua tersebut terasa saat diinjak. Pangeran Patang Aji tampak geram dan murka melihat suasana di ruangan tersebut. Apa yang telah dilakukan Endang Banowati terhadap bayi-bayi yang diculiknya ?
Endang Banowati dengan terpaksa menceritakan secara rinci segala yang telah diperbuatnya. Bayi-bayi tersebut dimakan dengan sangat buasnya dan kadang tanpa meninggalkan sisa potongan tubuh satupun. Biadab !!! Begitu teriakan Pangeran Patang Aji. Baru saja Pangeran Patang Aji ingin mengacungkan cambuknya, tiba-tiba Pangeran Patang Aji tersadar kalau Endang Banowati telah minta maaf dan bertobat walaupun Pangeran Patang Aji masih meragukannya.
Tapi Endang Banowati terus memohon maaf dan pengampunan karena dia melakukan hal tersebut dengan terpaksa agar bisa bertahan hidup di dunia dan dengan darah bayi umur 15 hari itulah yang bisa merubahnya menjadi wanita pada umumnya. Bayi yang dibutuhkan oleh Endang Banowati sebagai tumbal berjumlah 40 bayi tapi tinggal satu lagi (sudah 39 bayi yang dikorbankan) malah tertangkap oleh Pangeran Patang Aji.
Ketika didesak oleh Pangeran Patang Aji apa alasan sebenarnya Endang Banowati memakan bayi, maka terungkaplah kalau sebetulnya Endang Banowati ingin menjadi manusia dan merasa iri melihat kemuliaan seorang manusia. Pangeran Patang Aji mengatakan kalau itu sudah menjadi kuasa Allah SWT dan Endang Banowati harus menerima takdirnya.
Terus saja Endang Banowati menangis dan merintih betapa kurang beruntung nasibnya sementara untuk melakukan aksinya supaya bisa seperti manusia terhalang oleh perlawanan Pangeran Patang Aji. Endang Banowati terus memohon agar diberi kesempatan untuk menculik satu bayi lagi agar wujudnya bisa sempurna seperti seorang wanita.
Pangeran Patang Aji tetap pada pendiriannya untuk menolak permintaan Endang Banowati. Untuk itu Endang Banowati mengatakan lebih baik Pangreran Patang Aji membunuhnya saja daripada hidup tersiksa dan terisolir. Pangeran Patang Aji terenyuh juga mendengar perkataan Endang Banowati. Akhirnya dengan melakukan tafakur sejenak, Pangeran Patang Aji menemukan solusi atas permasalahan Endang Banowati.
”Hai Endang Banowati, Siluman Gua Palimanan. Ku telah menemukan jalan keluar untukmu tapi dengan satu syarat yang tidak dapat diganggu gugat ataupun dilanggar olehmu. Siapkah kau meneriwa tawaranku ? “
”Aku siap menerima tawaran Pangeran dengan segala resikonya dan tunduk kepada perintah Pangeran“
”Dengarkan apa yang kuucapkan“
”Baik Pangeran“
”Pasrah kepada Allah SWT dan memohon ampun kepadaNya. Dengan seijin Allah SWT, saya akan menikah denganmu dengan syarat kau harus masuk Islam seutuhnya. Kemudian kau dilarang untuk memakan atau membunuh bayi-bayi yang ada di seluruh kerajaan Cirebon khususnya dan yang ada di muka bumi ini pada umumya. Sebagai gantinya kami akan memberikan darah bayi segar yang diambil dari beberapa bayi yang ada di seluruh kerajaan pada hari Sabtu Pahing minggu pertama setiap bulannya. Apakah kau menerima tawaranku, Hai Endang Banowati Siluman Gua Palimanan ?“
Endang Banowati tampak diam sejenak dan menyatakan kesanggupannya untuk menerima tawaran Pangeran Patang Aji. Penerimaan Endang Banowati disambut suka cita oleh para prajurit yang ada di dalam gua. Ini berarti mengakhiri penculikan bayi-bayi yang selama 3 tahun mengganggu ketenangan penduduk Cirebon.
Kabar ini langsung disampaikan kepada Sunan Gunung Jati. Dengan penjelasan yang matang dan masuk akal oleh Pangeran Patang Aji, akhirnya Sunan Gunung Jati menyetujuinya dengan syarat semua ini dilakukan atas dasar lillahi ta’ala.
Bergerigi seperti lidah buaya


Beberapa bulan kemudian, pernikahan dilangsungkan secara tertutup dalam hukum Islam tanpa banyak orang mengetahuinya. Setelah menikah, Endang Banowati tetap tinggal di gua Palimanan dan sesekali dikunjungi oleh Pangeran Patang Aji sambil membawakan darah bayi untuk dijadikan santapan Endang Banowati. Endang Banowati sangat taat menjalankan perintah suaminya Pangeran Patang Aji dan tidak pernah lagi keluar gua kecuali menerima kedatangan suaminya.
Dari pernikahannya dengan Pangeran Patang Aji diperoleh anak tunggal berjenis kelamin laki-laki dan diberi nama Raden Kilab. Raden Kilab lahir layaknya manusia biasa tetapi yang membedakan adalah lidahnya bergerigi. Lidahnya yang bergerigi diturunkan dari ibunya Endang Banowati dimana saat memakan tulang bayi dulu, lidah terkena sayatan serpihan tulang bayi yang tajam dan menyerupai gerigi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar